02 Mei 2008

Antara Iman dan Sepatu Bagian 1

Hari ini aku jalan-jalan sama adik perempuanku. Lihat-lihat sepatu. Pengen beli, soalnya sepatu lamaku kulitnya udah ngelupas dan warnanya kalau kata orang jawa bilang ”mblutuk”.(hihi kata yang aneh). Keliling-keliling akhirnya ada satu sepatu yang menurutku bagus tapi setelah lihat bandrol harganya, weh! Mahal juga 329rb. Mungkin bagi orang lain tidak mahal, tapi bagiku cukup mahal. Sebenarnya aku ada sih ditabungan uang segitu tapi itu jumlah seluruh tabunganku. Aku jadi berpikir dua kali apakah tetap beli atau tidak.

Akhirnya munculah dua tokoh dipikiranku yaitu ”aku” dan ”saya” (sebenarnya aku = saya dan saya = aku). Si ”aku” berkata beli saja tdk apa-apa, besok pasti diberkati lagi. Yang penting beriman, tidak perlu kuatir hari esok. Sepatumu kan sudah jelek. Si ”saya” berpendapat jangan dibeli. Itu mahal, kalau kamu beli sepatu itu bagaimana dengan kebutuhanmu yang lain, makan, transport dll. Ujung-ujungnya ngutang. lagi sengit-sengitnya si ”aku” dan ”saya” saling beradu argumen yang sebenarnya dua-duanya benar juga, ternyata muncul tokoh yang sebenarnya hanya berfungsi sebagai kata penengah kemudian berubah menjadi tokoh ketiga yaitu ”dan”. Ternyata ada tiga tokoh yaitu ”aku”, ”dan”, ”saya”. Si ”dan” berkata kita memang harus punya iman, tetapi iman yang berhikmah dan bijaksana yang dari Tuhan, bukan iman nekat. Seperti Petrus yang berani berjalan diatas air mengikuti Yesus, tetapi Petrus goyah dan tenggelam. Kita juga harus sama seperti Petrus yaitu berani berjalan diatas air, tetapi bedanya kita tidak goyah dan tenggelam. Yakinlah dengan iman kalau kamu bakal punya sepatu baru, tetapi jangan beli sekarang. Pulang dan berdoalah, itu kata si ”dan”.

(aku dan saya sudah berdamai, baikan lagi dan menjadi satu lagi yaitu = aku) aku akhirnya pulang dan tidak beli sepatu itu. Tapi aku tidak kecewa. Karena aku percaya Tuhan pasti akan memberiku sepatu baru. (ast)

0 komentar: