13 Mei 2008

Mazmur 107

Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan, yang dikumpulkan-Nya dari negeri-negeri, dari timur dan dari barat, dari utara dan dari selatan.

Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka. Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang. Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia, sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.

Ada orang-orang yang duduk di dalam gelap dan kelam, terkurung dalam sengsara dan besi. Karena mereka memberontak terhadap perintah-perintah Allah, dan menista nasihat Yang Mahatinggi, maka ditundukkan-Nya hati mereka ke dalam kesusahan, mereka tergelincir, dan tidak ada yang menolong. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nyalah mereka dari kecemasan mereka, dibawa-Nya mereka keluar dari dalam gelap dan kelam, dan diputuskan-Nya belenggu-belenggu mereka. Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia, sebab dipecahkan-Nya pintu-pintu tembaga, dan dihancurkan-Nya palang-palang pintu besi.

Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka; mereka muak terhadap segala makanan dan mereka sudah sampai pada pintu gerbang maut. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur. Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia. Biarlah mereka mempersembahkan korban syukur, dan menceritakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dengan sorak-sorai!

Ada orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas; mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam. Ia berfirman, maka dibangkitkan-Nya angin badai yang meninggikan gelombang-gelombangnya. Mereka naik sampai ke langit dan turun ke samudera raya, jiwa mereka hancur karena celaka; mereka pusing dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk, dan kehilangan akal. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dikeluarkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang. Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka. Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia. Biarlah mereka meninggikan Dia dalam jemaat umat itu, dan memuji-muji Dia dalam majelis para tua-tua.

Dibuat-Nya sungai-sungai menjadi padang gurun, dan pancaran-pancaran air menjadi tanah gersang, tanah yang subur menjadi padang asin, oleh sebab kejahatan orang-orang yang diam di dalamnya. Dibuat-Nya padang gurun menjadi kolam air, dan tanah kering menjadi pancaran-pancaran air. Ditempatkan-Nya di sana orang-orang lapar, dan mereka mendirikan kota tempat kediaman; mereka menabur di ladang-ladang dan membuat kebun-kebun anggur, yang mengeluarkan buah-buahan sebagai hasil. Diberkati-Nya mereka sehingga mereka bertambah banyak dengan sangat, dan hewan-hewan mereka tidak dibuat-Nya berkurang. Tetapi mereka menjadi berkurang dan membungkuk oleh sebab tekanan celaka dan duka. Ditumpahkan-Nya kehinaan ke atas orang-orang terkemuka, dan dibuat-Nya mereka mengembara di padang tandus yang tiada jalan; tetapi orang miskin dibentengi-Nya terhadap penindasan, dan dibuat-Nya kaum-kaum mereka seperti kawanan domba banyaknya. Orang-orang benar melihatnya, lalu bersukacita, tetapi segala kecurangan tutup mulut.

Siapa yang mempunyai hikmat? Biarlah ia berpegang pada semuanya ini, dan memperhatikan segala kemurahan TUHAN. (ast)

The Secret

Beberapa hari ini aku membaca sebuah ebook yang berjudul The Secret, belum selesai sih membacanya. Buku best seller dunia yang kontroversial karena buku ini berbicara tentang hidup manusia yang difokuskan pada diri manusia itu sendiri dan lingkungan yang berupa semesta atau alam dunia ini. Jadi buku ini tidak berbicara tentang Tuhan sebagai sesuatu yang harus dipercaya untuk kehidupan manusia. Cukup fokus pada dirimu sendiri dan semesta.

Buku ini sebenanrnya sangat bagus, terlepas dari kontroversial yang ada. Karena buku ini berbicara tentang manusia harus berpikir positif, mengendalikan pikiran untuk berpikir yang baik, mengajar untuk percaya dengan iman, besyukur, memperkatakan yang baik dll. Beberapa hal yang diuraikan bahkan sangat alkitabiah, Cuma bedanya memang membuang unsur Tuhannya dan diganti dengan aku.

Tetapi malam ini Tuhan bagikan isi hatinya kepadaku. Dia berkata dalam hatiku, ”orang dunia saja tahu bagaiman seharusnya menempatkan pikirannya kepada hal yang baik, berpikir posif, percaya dengan iman, besyukur......seandanya anak-anakKU mengerti bahwa betapa luar biasanya hal itu apabila mereka mempraktikkannya didalam AKU sebagai Tuhannya dan AKU didalam mereka.

AKU ingin mereka berpikir yang baik ketika melihat diri mereka sendiri dan sesamanya, karena mereka manusia adalah ciptaanKU.

AKU ingin mereka berfikir positif, karena dengan pikiran yang positf maka mereka dapat berjalan dan merasakan hidup yang indah dan damai

AKU ingin mereka percaya dan beriman kepadaKU, karena hanya dengan itu mereka beroleh hidup yang kekal

AKU ingin mereka bersyukur dengan apa yang mereka miliki dan hadapi, karena yang terbaik adalah ketika mereka memiliki AKU dan dekat dengan AKU.

AKU ingin mereka berdoa dan membaca firmanKu!

(ast)

Mengajar dan Berbuat Baik

Hari-hari ini banyak orang sedang mengkampanyekan dirinya supaya terpilih jadi pemimpin rakyat. Semua mengobral janji dan program. Sebagian hasil pemikiran yang matang. Sebagian lagi asal menarik dan laku dijual. Sebenarnya kalau kita mengikuti cara Tuhan Yesus, jauh lebih baik. Yesus mengajar dan berbuat baik dengan menyentuh hidup banyak orang. Itu yang terus menerus dilakukannya tanpa henti, akhirnya orang yang memaksaNya jadi Raja, walau ditolaknya. Gereja jika meneladani ini akan hidup dalam harmoni yang ajaib. Tidak ada sekedar berdebat untuk idenya diterima, juga tidak ada black campaign yang menjelekkan sesama supaya kelihatan baik dan tidak ditinggalkan orang. Bukankah jika ingin menjadi pemimpin kita harus jadi pelayan bagi semuanya? Mari ajarkan dan sampaikan Good News dan jangan jemu berbuat baik. Oke?

(Pdt Petrus Agung Purnomo, The Wind Of Change JKI Injil Kerajaan vol. 19 tgl. 10-11 Mei 2008)

Abba Bapa

Hari minggu ini yang berkotbah di gereja kami adalah Ps. Charles Nieman. Sebenarnya beliau melayani digereja kami sejak jumat, dan ada seminarnya juga, tetapi saya tidak bisa mengikutinya karena sesuatu hal, sehingga saya hanya mengikutinya ketika kebaktian hari minggu sore saja. Salah satu hal yang dikatakannya pada minggu sore ini adalah ketika dia membahas tentang hukum kasih. Beliau berkata bahwa sebenarnya tidak banyak orang Kristen yang mengerti tentang kasih yang sebenarnya. Kelihatannya sih mudah, tapi praktiknya ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Salah satu perikop yang beliau uraikan adalah Lukas 15: 11-32 Perumpamaan tentang anak yang hilang, perumpamaan pasti banyak orang kristen yang mengetahuinya. Tetapi banyak kali kita orang kristen terfokus pada dua anak laki-laki yang diceritakan pada perumpamaan ini. Padahal sebenarnya yang menjadi tokoh utama adalah Bapak dari dua anak laki-laki ini (ayat 11).

Ada dua anak yang yang memiliki kepribadian yang berbeda. Anak bungsu meminta bagian warisan dari bapaknya, dan dengan kasih bapaknya memberikannya. Anak bungsu jual semua harta warisannya dan menghambur-hamburkannya denga berfoya-foya. Hartanya sudah habis, dia pun menjadi miskin dan bekerja menjadi hamba untuk menjaga babi. Bahkan saking miskinnya dia sampai makan ampas panganan babi. Dia tahu keadannya dan menyadari kesalahan masa lalunya, dia teringat akan hamba-hamba bapaknya yang selalu kenyang dengan makanan berlimpah sedangkan dia disini hampir mati kelaparan. Dia memutuskan untuk pulang dan menjadi hamba bapaknya. Ketika ia berjalan pulang, dan ayahnya dari jauh melihat dia, ayahnya langsung berlari lalu mendapatkan dia dan merangkulnya dan menciumi dia. Menyuruh hambanya mengambil jubah terbaik, cincin, sepatu dan menyembelih anak lembu tambun dan pesta karena anaknya bungsunya kembali.Anak kedua adalah anak sulung yang taat, pelayan bapaknya, tidak pernah melanggar perintah (ayat 29) dan dia berkata bapaknya tidak pernah buat pesta untuk dirinya.Anak sulung punya persepsi yang salah tentang kasih bapaknya. Dia punya persepsi bahwa untuk mendapat kasih bapaknya berarti dia harus lah rajin bekerja, melayani bapaknya, tidak melanggar perintah. Persepsinya itu sebenarnya adalah hal yang dilakukan seorang hamba terhadap tuannya bukan bapak terhadap anak. Hamba, karyawan atau pekerja dinilai berdasarkan disiplinnya, pekerjaannya, ketaatannya. Padahal kasih bapak terhadap anak tidak melihat hal itu.

Akupun merenungkan hal ini dan aku melihat kalau memang banyak kali orang Kristen khusunya pelayan di gereja baik sadar atau tidak memiliki persepsi bahwa aku harus melayani dengan giat di gereja supaya aku dapat kasih Tuhan, sehingga ketika dia merasa ada yang salah dengan dirinya, yaitu dapat masalah atau tidak diberkati seperti yang dia bayangkan sebelumnya maka dia berkata pada Tuhan ”Tuhan, aku kan sudah melayaniMu dengan rajin, bahkan sampai aku tinggalkan semuanya, bahkan keluarga aku nomor duakan tapi kok aku diperlakukan seperti ini.””lha si A pelayanannya biasa-biasa saja malah hidupnya diberkati Tuhan, si B tidak melayani apapun juga hidupnya baik-baik saja.” dan pelayan Tuhan yang dulunya rajin, baik dia sadari atau tidak menjadi kepahitan kepada Tuhan dan tidak mau melayani lagi dan parahnya, tidak sedikit yang meninggalkan Tuhan.

Ps. Charles Neiman berkata: Abba Bapa adalah bapak, ayah, daddy, bokap, papa yang mengasihi anak anaknya tanpa ”hukum sebab-akibat”. Sebab engkau seorang yang baik, rajin, taat maka akibatnya engkau aku kasihi. TIDAK! Bukan seperti itu. Tapi bukan terus kita bisa hidup seenaknya. Karena orang yang sudah merasakan kasih Abba Bapa tidak akan berbuat dosa lagi seperti ”perempuan yang berzinah (Yohanes 8:1-11).

Hukum sebab-akibat adalah hukum taurat. Padahal kita orang percaya sudah tidak dibawah hukum taurat lagi, tetapi hukum kasih. Ingatlah bahwa begitu besar kasih Allah Bapa kepada kita, sehingga dikaruniakannya AnakNya yang Tunggal untuk menebus dosa kita. Bapa sudah mengasihi kita terlebih dahulu, maka kita harus mengasihi Bapa dan sesama kita. Tidak ada alasan untuk kita tidak bisa mengasihi sesama kita, apalagi Bapa kita karena kita sudah mendapat kasihNya terlebih dahulu. (ast)